Jumat, 01 Oktober 2010

Sepak Terjang Bupati Ipik Gandamana

Ipik Gandamana Bupati yang di(ter)lupakan
Salah satu mantan Bupati Bogor yang belum mendapatkan tempat di hati para pemimpin Bogor, khususnya Kabupaten Bogor, adalah Bupati Ipik Gandamana. Padahal konsistensi Ipik dalam memperjuangkan harga diri bangsa yang merdeka patut dijadikan contoh dan suri tauladan.
Berdasarkan sepak terjangnya selama menjadi Patih hingga Bupati Bogor, rasanya sangat layak, kalau nama Ipik Gandamanah dijadikan sebagai salah satu nama jalan di Kabupaten Bogor, seperti yang telah dilaksanakan oleh Pemkot Bogor. Misalnya saja ada Jalan Achmad Sobana, di wilayah Bogor Utara, atau Jl. RE. Abdullah di wilayah Gunung Batu. Siapa Bupati Ipik ? berikut riwayat singkat hidupnya :
Ipik Gandamana, atau urang Sunda memanggilnya dengan sebutan Bupati Ipik Gandamanah, lahir di Purwakarta, Jawa Barat pada 30 Nopember 1906. Meski tanah kelahiran (bali geusan ngajadi) nya di Kabupaten Purwakarta, namun dia menjalani masa kecil hingga dewasanya di Banten. Ipik menempuh pendidikan mulai dari ELS, MULO, OSVIA A & B dan setelah menyelesaikan studinya,dia aktif di lingkungan kepamongprajaan. Perjalanan karirnya dimulai saat dia menjadi Candidat Ambtenar (CA) di jaman Jepang serta ditempatkan di Bogor selama kurang lebih 2 tahun, kemudian diangkat menjadi Mantri Polisi Cikijing, serta di tahun 1931 menjadi Mantri Kabupaten Jakarta. Di tahun 1938 Ipik diangkat menjadi Sekretariat II Kabupaten Ciamis, kemudian pada tahun 1942 menjadi Camat Cibeureum Tasikmalaya sampai akhirnya diangkat menjadi Patih Bogor pada tahun 1946, yang sebelumnya di Bandung terjadi peristiwa”Bandung Lautan Api”yang menyebabkan keluarga Ipik Gandamana beserta stafnya mengungsi ke tempat yang aman dan tetap melaksanakan tugas pemerintahannya berjalan sambil berpindah-pindah tempat dan akhirnya pada tahun 1946 menjadi Patih Bogor.
Saat itu wilayah Bogor dalam kondisi yang mencekam dan menegangkan, karena tentara Belanda telah menyebar di Bogor termasuk mata-matanya dan menyebarkan politik adu domba(de vide et impera). Belanda saat itu membentuk Partai Rakyat Pasundan yang dipimpin oleh Mr.Kustomo yang berpihak kepada Belanda dan bagi para pejabat pemerintah RI termasuk Presiden dan Bupati yang tidak mau bergabung dengan Belanda ditangkap dan dijebloskan ke dalam tahanan militer dan sebagian besar dibuang ke Jogyakarta.
Beberapa kali Ipik Gandamana dibujuk untuk bergabung dengan Belanda, dengan berbagai macam cara termasuk iming-iming jabatan menjadi Patih Bogor di lingkungan pemerintahan Belanda Recomba, namun beliau tetap menolak dan tetap membela pemerintah Republik Indonesia dan akhirnya dimasukan lagi ke dalam penjara, dan saat masih dalam penjara beliau mendapat tawaran lagi untuk bergabung dengan pemerintahan Belanda/Recomba dan bebas dari penjara, dengan syarat mau menandatangani surat pernyataan yang isinya “saya tidak akan mengganggu pemerintah Belanda/Recomba dan akan membantu pemerintah Belanda/Recomba” namun beliau tetap konsisten untuk tetap berpihak dan membela Pemerintah Republik Indonesia. Akhirnya keluar Besluit dari Presiden HTB Bogor tanggal 14 Agustus 1947 nomor 305 yang memerintahkan Ipik Gandamana dibuang ke pengasingan di hutan dengan beberapa pejabatnya ke wilayah Jasinga.
Saat dalam pengasingan, Ipik Gandamana menerima tugas dari pemerintah RI untuk menyusun pemerintah Kabupaten Bogor Darurat yang pusatnya di wilayah Jasinga dan beliau ditetapkan menjadi Bupati Bogor, kemudian diangkat lagi oleh Wakil Gubernur Jawa Barat untuk merangkap menjadi Bupati Lebak.
Setelah pembentukan Pemerintah Kabupaten Bogor Darurat sesuai perintah pimpinan Pemerintah Republik Indonesia, dalam kondisi Clash kedua, pemerintah Darurat Kabupaten Bogor di Jasinga selalu mendapat teror dan diserang oleh tentara Belanda sehingga Ipik Gandamana beserta keluarga dan jajaran pembantunya berpindah-pindah tempat untuk menghindari serangan tentara Belanda, mulai di Cipanas kabupaten Lebak dan akhirnya ke desa Malasari Kecamatan Leuwiliang(sekarang kecamatan Nanggung). Di desa Malasari inilah pelaksanaan tugas pemerintah darurat Kabupaten Bogor berjalan cukup lama, selama beberapa bulan sampai adanya gencatan senjata(cease fire) antara pasukan TNI/pejuang dengan pasukan Belanda. Setelah gencatan senjata, berdasarkan pada keputusan Gubernur Militer Jawa Barat, Ipik Gandamana diperbantukan di KMD IV/DJ.B selaku Kepala Staf Sipil Kepresidenan Bogor yang selanjutnya ditetapkan menjadi Presiden Bogor.
Perjalanan panjang Ipik Gandamana dalam mengemban amanah, selain berkaitan dengan penyusunan pemerintah darurat Kabupaten Bogor. Pengabdian dan perjuangan beliau dalam mengemban amanah tidak pernah berhenti, walaupun harus menghuni sel di penjara Paledang, karena tidak mau bekerjasama dengan pemerintah Belanda/Recomba . Informasi dan pesan rahasia yang beliau sampaikan kepada para pejuang dan kaum Republik di wilayah Bogor melalui kurirnya yaitu Hj.Nani Karmawan (adik kandung Jenderal Ibrahim Adjie), namun kegiatannya itu akhirnya diketahui oleh pihak Belanda, dan Hj.Nani Karmawan ditangkap Belanda dan diinterogasi dengan berbagai tekanan dan siksaan.
Ipik Gandamana beserta keluarga yang tinggal di lokasi pemerintah darurat Kabupaten Bogor yang terakhir di kampung/desa Malasari Kecamatan Leuwiliang(Nanggung sekarang) yang barada di sekitar kaki Gunung Halimun melaksanakan tugas pemerintahan Kabupaten Bogor yang berjalan selama beberapa bulan, sampai terjadinya gencatan senjata antara pasukan TNI dengan tentara Belanda. Kehidupan beliau di Desa Malasari sangat membutuhkan bantuan dari penduduk Desa Malasari, tidak sedikit bantuan yang diberikan kepada Bapak Ipik Gandamana baik materi maupun dukungan moral. Kedekatan dan keakraban beliau dengan penduduk sekitar Desa Malasari membuat masyarakat Desa Malasari tetap setia berjuang dan mengamankan”pendopo”Bupati Ipik Gandamana sebagai tempat melaksanakan pemerintahan darurat Kabupaten Bogor.
Hal yang sangat menarik dari sosok Bupati Pertama ini, beliau sangat menyukai tutut(semacam keong yang hidup di sawah-sawah) atau lebih dikenal dengan”daging pengenyot”adalah merupakan pelengkap lauk-pauk di lokasi pengasingannya. Dan sosok inilah yang patut ditiru dan diteladani bagi generasi selanjutnya di lingkungan pemerintah Kabupaten Bogor. Pamrihnya hanya satu berjuang dan mengabdi bagi kepentingan Negara Kesatuan Republik Indonesia serta selalumengharapkan ridho Allah SWT





Sumber : Biografi Mantan Bupati Bogor Periode 1948-Sekarang.
Kantor Arsip dan Perpustakaan Kab. Bogor

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar